Dalam lanskap dunia kerja modern, istilah Quiet Quitting semakin sering terdengar, terutama di kalangan profesional muda. Istilah ini bukan berarti seseorang benar-benar berhenti dari pekerjaannya, tetapi lebih kepada berhenti untuk melakukan “extra miles” bekerja lebih dari yang dituntut secara formal. Di Jepang, negara dengan budaya kerja yang sangat menekankan loyalitas, hierarki, dan dedikasi total, munculnya quiet quitting terutama di kalangan generasi Z menandakan pergeseran paradigma yang signifikan.
Generasi Z, mereka yang lahir sekitar tahun 1997 hingga awal 2010-an—tumbuh di era digital, dengan akses informasi yang luas dan paparan terhadap nilai-nilai global. Di Jepang, mereka mulai memperlihatkan ketidakpuasan terhadap norma kerja tradisional yang dianggap tidak relevan dengan aspirasi hidup masa kini.
Artikel ini akan mengulas lebih dalam bagaimana quiet quitting muncul di Jepang, apa penyebab utamanya di kalangan Gen Z, dan bagaimana perusahaan serta masyarakat Jepang merespons perubahan ini.

Mengenal Quiet Quitting
Quiet quitting bukanlah konsep baru, namun menjadi lebih populer setelah pandemi COVID-19. Ini adalah bentuk sikap kerja di mana seseorang hanya melakukan pekerjaan sesuai kontrak tanpa keterlibatan emosional atau usaha tambahan. Tidak ada lembur tanpa kompensasi, tidak ada beban mental yang dibawa pulang, dan tidak ada rasa “wajib” untuk selalu hadir melebihi porsi kerja normal.
Sikap ini sering kali disalahartikan sebagai kemalasan atau penurunan produktivitas, padahal pada dasarnya, quiet quitting adalah bentuk dari batasan yang disengaja untuk menjaga kesehatan mental, keseimbangan hidup, dan penghargaan terhadap waktu pribadi.
Budaya Kerja Tradisional Jepang: Tanah Subur untuk Kelelahan Kolektif
Sebelum memahami konteks quiet quitting, penting untuk melihat lebih dulu karakteristik budaya kerja Jepang. Beberapa ciri yang menonjol antara lain:
- a. Lembur sebagai norma: Tidak jarang karyawan pulang larut malam meskipun tugas hariannya sudah selesai.
- b. Kesetiaan tinggi terhadap perusahaan: Banyak karyawan bertahan puluhan tahun di satu perusahaan meskipun tidak puas dengan pekerjaannya.
- c. Senioritas yang kuat: Promosi sering kali berdasarkan masa kerja daripada kinerja aktual.
- d. Norma kolektif yang menekan: Budaya gaman (bertahan) dan enryo (menahan diri) membuat pekerja enggan menyuarakan ketidakpuasan.
Kondisi inilah yang selama bertahun-tahun menjadi penyebab munculnya masalah kesehatan mental, burnout, hingga kasus karoshi kematian akibat kelelahan kerja.
Mengapa Gen Z Jepang Memilih Quiet Quitting?
Berbeda dengan generasi sebelumnya, Gen Z di Jepang memiliki nilai-nilai yang lebih individualistik dan sadar akan pentingnya kualitas hidup. Beberapa alasan yang mendorong mereka melakukan quiet quitting antara lain:
1. Kesadaran Tinggi akan Kesehatan Mental
- Isu seperti kecemasan, depresi, dan burnout kini lebih terbuka dibicarakan. Gen Z berani mengambil langkah untuk menjaga diri, termasuk dengan menolak budaya kerja berlebihan. Mereka melihat tidak ada manfaat jangka panjang dari mengorbankan kesehatan demi karier yang belum tentu memberi apresiasi setimpal.
2. Dampak Pandemi COVID-19
- Pandemi menjadi titik balik. Banyak perusahaan menerapkan kerja jarak jauh dan sistem hybrid. Gen Z mengalami fleksibilitas dan efisiensi kerja yang sebelumnya tidak dikenal. Setelah pandemi mereda, banyak dari mereka menolak untuk kembali ke gaya kerja lama yang tidak fleksibel dan tidak produktif.
3. Ketidakpercayaan terhadap Sistem Senioritas
- Gen Z tidak percaya bahwa bekerja keras saja cukup untuk mendapat imbalan yang layak. Mereka skeptis terhadap sistem promosi yang tidak meritokratis. Ini menciptakan rasa jenuh dan keengganan untuk “berusaha lebih” bila hasilnya tidak pasti.
4. Paparan Budaya Global dan Anti-Hustle
- Dengan tumbuh bersama media sosial dan konten global, Gen Z Jepang terpapar nilai-nilai work-life balance, digital nomad lifestyle, dan filosofi seperti “you are not your job”. Ini berbanding terbalik dengan nilai kerja keras tanpa batas yang masih dianut banyak perusahaan Jepang.
Dampak Quiet Quitting terhadap Perusahaan Jepang
Banyak perusahaan di Jepang saat ini menghadapi tantangan besar dalam mempertahankan talenta muda. Ketika semangat loyalitas tidak lagi otomatis muncul, organisasi perlu merumuskan ulang cara mereka memotivasi dan mempertahankan karyawan.
Tantangan yang dihadapi antara lain:
- a. Turunnya engagement karyawan: Karyawan hanya bekerja “secukupnya”, tanpa inisiatif tambahan.
- b. Penurunan inovasi dan kolaborasi: Jika semua orang memilih untuk tidak terlibat lebih dalam, ide-ide kreatif pun akan berkurang.
- c. Tingginya turnover generasi muda: Ketika tidak ada ikatan emosional dengan pekerjaan, keputusan untuk resign menjadi lebih cepat dan mudah.
Bagaimana Perusahaan Merespons?
- a. Menerapkan sistem kerja fleksibel: Jam kerja yang lebih luwes dan opsi kerja dari rumah.
- b. Peningkatan program kesehatan mental dan konseling internal.
- c. Perubahan sistem reward dan promosi yang lebih transparan dan berbasis kinerja.
- d. Pelatihan manajerial untuk memahami gaya kerja Gen Z.
- Namun, adaptasi ini masih berjalan lambat. Banyak perusahaan besar yang masih enggan meninggalkan struktur hierarkis dan pola kerja tradisional yang sudah mendarah daging.
Kesimpulan
Fenomena quiet quitting di Jepang adalah cerminan perubahan besar dalam nilai-nilai generasi muda. Gen Z bukan tidak mau bekerja keras, namun mereka ingin bekerja dengan cara yang sehat, adil, dan bermakna. Mereka tidak lagi melihat pekerjaan sebagai pusat hidup, melainkan bagian dari kehidupan yang seharusnya seimbang dengan aspek lain seperti keluarga, hobi, dan kesehatan mental.
Bagi perusahaan yang ingin bertahan dan berkembang dalam era kerja baru ini, memahami dan merespons kebutuhan Gen Z bukan lagi pilihan—melainkan sebuah keharusan. Jika tidak, quiet quitting hanyalah awal dari eksodus talenta yang lebih besar.